Properti

Trend Properti Komersial di Indonesia

 

Sejak tahun lalu, sektor properti secara global telah mengalami pemulihan secara perlahan setelah mengalami masa penurunan selama pandemi. Dari hal tersebut, kita juga menyaksikan adanya pertumbuhan harga properti yang tidak banyak mengalami kenaikan signifikan. Walau begitu pertumbuhan ini tidak serta merta terjadi dan bisa dilihat bahwa kenaikan harga ini berdampak pada permintaan dan daya beli properti yang rendah.

Semua ini tentunya akibat dari ekonomi global yang pertumbuhannya tidak berjalan sesuai harapan dan bahkan sempat mengalami penurunan di tahun-tahun sebelumnya. Pertumbuhan yang terjadi nyatanya tidak banyak membantu peningkatan daya belu properti.

Prospek Sektor Properti

Menurut penggambaran para analis, prospek pada sektor properti secara global di tahun 2024 banyak menemui ketidakpastian. Ini terjadi seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang diprediksi masih berjalan cukup lambat. Beberapa lembaga internasional seperti World Bank dan IMF juga turut menyumbangkan pandangannya pada kondisi perekonomian saat ini.

Akibatnya, banyak orang beranggapan bahwa ekonomi di tahun 2024 pertumbuhannya tidak lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Jika kita melihat pada IMF, pada tanggal 30 Oktober 2023 memberikan perkiraan mereka terhadap pertumbuhan ekonomi secara global di tahun 2024 yang hanya mencapai 2,9%, yang mana ini lebih rendah dari gambaran tahun 2023 yang diharapkan mampu mencapai angka setidaknya 3%. Pertumbuhan ekonomi yang lambat diyakini sebagai dampak dari melemahnya ekonomi di Negara besar di Eropa, China dan US.

Sejalan dengan gambaran pertumbuhan ekonomi global yang menurun, maka sudah tampak bahwa ini akan mempengaruhi kinerja pada sektor properti. Sekalipun di China mengalami kinerja pada sektor properti yang buruk yang mengakibatkan banyak perusahaan besar di bidang properti mengalami kebangkrutan dan semakin memperlambat pertumbuhan ekonomi dan dampak yang paling parah tentu dirasakan oleh China sendiri.

Dampak Lambatnya Perkembangan Investasi Properti

Laju pertumbuhan investasi properti yang lambat memberikan dampak besar pada semua perekonomian. Investasi di banyak sektor juga turut terpengaruh oleh kondisi ini. besarnya pengaruh ini diakibatkan oleh kuatnya keterikatan antara sektor ekonomi dengan sektor properti, utamanya adalah produsen bahan pembangunan, produk mineral dan logam, peralatan dan mesin pembangunan dan masih banyak lagi.

Sejak September 2023, sebuah lembaga pemeringkat kredit menyatakan bahwa sektor properti di negeri China dianggap masih lemah secara fundamental. Bahkan keadaan ini membuat lembaga pemeringkat tersebut menurunkan status sektor properti China menjadi negatif dari yang sebelumnya berstatus stabil. Semua itu tentu sesuai dengan pertimbangan angka penurunan pertumbuhan ekonomi yang terjadi di China.

Kaitan Pertumbuhan Ekonomi China dan Indonesia

Sektor properti di China memang diperkirakan akan mengalami pemulihan pada tahun 2024, walaupun masih terbatas. Korporasi properti yang mengalami pemulihan utamanya adalah korporasi yang statusnya sebagai BUMN atau Badan Usaha Milik Negara.

Sedangkan di sisi lain, untuk korporasi atau perusahaan swasta digambarkan masih dalam situasi tertekan karena adanya keterbatasan sumber keuangan dan jalur pendanaan yang kurang tersedia. Banyak orang memperkirakan nilai jual beli properti di Indonesia akan mengalami beberapa tantangan selama setidaknya satu tahun atau satu setengah tahun lagi.

Lihat juga : Memahami Proyek Pembangunan Urban dan Tujuannya

Langkah dari Pemerintahan

Otoritas ekonomi yang ada di banyak Negara sudah mulai ikut andil dalam usaha memulihkan kondisi sektor properti dari situasi yang buruk di negaranya. Misalkan pada otoritas keuangan atau pemerintahan Indonesia yang telah merilis banyak kebijakan positif sebagai upaya untuk memperbaiki kinerja perekonomian dalam perusahaan bidang properti dan juga menumbuhkan daya beli masyarakat di seluruh lapisan.

Langkah lain untuk memperbaiki kinerja ekonomi perusahaan adalah dengan memberikan kebijakan dukungan pembiayaan basis saham yang bisa dimanfaatkan oleh para pengembang properti. Langkah ini sudah lebih dulu dikembangkan di China dan tentunya ini bisa menjadi ide untuk mengatasi masalah yang sama di Indonesia demi menjaga stabilitas ekonomi di bidang properti.

Salah satu tujuan dari pemberlakuan kebijakan ini adalah untuk memastikan stabilitas ekonomi dan pendanaan untuk para developer properti yang merasakan tekanan hutang selama kurang lebih 2 sampai 3 tahun belakangan.

Harapannya, dengan adanya kebijakan tersebut, maka semua pengembang bisa mendapat akses dana yang cukup untuk digunakan sebagai modal kerja setelah sumber dana yang di dapat dari bank dan surat utang sudah didapatkan.

Prospek dan Trend Properti 2024

Melihat secara umum, perkembangan properti Indonesia di tahun 2023 banyak terpengaruh oleh kondisi ekonomi domestik dan juga pembatasan dari aturan otoritas dan pemerintah. Jika melihat dampak multiplier ekonomi yang besar dari sektor properti untuk otoritas terkait, maka tidak heran jika Bank Indonesia maupun pemerintahan juga ikut andil dalam membantu keberlanjutan pertumbuhan tren di sektor properti.

Sebagai contoh, langkah yang diambil di tahun 2021, di mana pemerintah memberikan insentif keuangan berupa Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah atau PPN-DTP untuk setiap pembelian rumah pertama dengan harga rumah yang mencapai 2 miliar.

Dengan adanya kebijakan ini, BI juga turut mengeluarkan kebijakan makro prudensial berbentuk pelonggaran pinjaman pada nilai mencapai 100%. Kebijakan pelonggaran pinjam tersebut juga masih bisa diterapkan hingga saat ini.

Kemudian mulai 2023 lalu, pemerintah juga memberikan lagi insentif keuangan yang sama. Lebih dari itu, cakupan insentif juga diperluas, termasuk untuk pembelian rumah pertama dengan harga mencapai 5 miliar. Akan tetapi, PPN yang ditanggung oleh pemerintah hanya untuk nilai pembelian rumah maksimal seharga 2 miliar tiap unitnya.

Faktor Pendorong Peningkatan Sektor Properti

Tidak hanya kebijakan PPN-DTP yang jadi faktor peningkatan sektor properti di tahun 2024, faktor lainnya yang menyebabkan peningkatan ini adalah kenaikan jumlah permintaan oleh end-user yang secara khusus tertarik dengan proyek perumahan model tapak dan tingkat suku bunga pada sistem KPR yang dianggap akan selalu pada tingkatan yang rendah jika dibandingkan pada masa-masa pandemi.

Lembaga pemeringkat kesejahteraan juga memberikan gambaran mereka selama tahun 2023 di mana penjualan perumahan masih stagnan. Diperkirakan bahwa di tahun lalu, pengembang yang memiliki eksposur besar pada perumahan model tapak dan juga kawasan industri memperlihatkan catatan pertumbuhan penjualan yang lebih tinggi.

Selain itu, lembaga survei tersebut juga memberi gambaran bahwa ada banyak kebijakan dari pemerintah dan Bank Indonesia yang akan memberikan dukungan terhadap pertumbuhan penjualan di perumahan hingga mencapai angka 5% atau 10% di tahun 2024 dan kenaikan ini banyak dirasakan oleh pihak pengembang. Kenaikan penjualan perumahan digambarkan akan dirasakan oleh pengembang dari kelas kecil hingga menengah.

Potensi Bisnis Properti

Anda masih bisa melihat potensi yang besar pada bisnis properti ini karena hingga saat ini tercatat ada setidaknya 9,9 juta keluarga yang masih belum memiliki rumah pribadi. Selain itu, tiap tahunnya diperkirakan ada 700.000 hingga 800.000 keluarga baru yang ke depannya akan membutuhkan rumah untuk keluarga mereka.

Hal ini akan didukung dengan salah satu program pemerintah di masa pemerintahan 2024 – 2029 yang memberikan komitmen tinggi untuk menyediakan hunian yang layak bagi semua kalangan masyarakat. Maka sudah pasti jika ada banyak program perumahan, maka akan banyak cara yang ditawarkan untuk memungkinkan setiap warga memiliki rumah sendiri.

Jika melihat pada visi misi calon presiden periode yang akan datang, di antaranya ada yang menjanjikan 2 juta rumah yang akan dibangun tiap tahunnya bagi warga Indonesia, yang mana angka tersebut lebih besar dua kali lipat dari apa yang pernah dijanjikan oleh pemerintahan sebelumnya. Maka dari itu, kita patut berharap dan mendukung setiap program yang ada supaya bisa memiliki properti atas nama keluarga sendiri.

Tantangan dalam Trend Properti

Di samping besarnya peluang bagi bisnis properti dan perumahan, maka tantangan yang harus dihadapi juga cukup besar. Masalah yang paling utama adalah mencari lahan yang tersedia dan mencari lahan yang memang aman dan cocok untuk dibangun perumahan dan properti.

Jika tren perumahan saat ini sedang berlangsung, maka tidak heran jika banyak lahan mulai dipatok dengan harga yang tinggi dan mendapat lahan dengan harga yang terjangkau dan ideal akan semakin sulit. Tidak hanya itu, ketersediaan dana yang terjangkau dan sesuai dengan kriteria pembayaran perumahan juga menjadi tantangan tersendiri dan sulit untuk diatasi.

Upaya penyediaan rumah yang terjangkau bagi masyarakat secara luas bukanlah hal yang mudah seperti membalikkan telapak tangan. Kemudian, masalah lainnya adalah keterbatasan junlah developer yang memenuhi syarat kualifikasi sebagai partner bisnis bagi bank penyedia kredit dan juga pemerintah.

Maka dari itu, sangat penting untuk mengembangkan beberapa kebijakan yang inovatif dan inklusif ke depannya supaya pelaku usaha di sektor properti dan perumahan serta bisnis yang terkait dengannya bisa berjalan secara stabil dan menguntungkan. Perlu adanya kerja sama yang baik antara otoritas daerah, pemerintah, lembaga keuangan dan juga pengusaha di sektor properti dan perumahan yang kuat dan stabil.

Properti Komersial

Melihat banyaknya kemungkinan pengusaha besar untuk memiliki properti mereka sendiri, maka ini juga mempengaruhi pola trend properti di Indonesia. Para pengusaha yang memiliki sumber daya yang cukup untuk memiliki properti akan membeli banyak properti, baik itu untuk kebutuhan bisnis mereka, maupun untuk disewakan kepada bisnis lain yang membutuhkan.

Selain itu, saat ini juga semakin banyak perumahan yang bahkan seolah muncul secara tiba-tiba di suatu daerah dengan ukuran dan desain rumah yang minimalis. Beberapa pengembang juga berupaya memberikan keuntungan untuk para calon pembeli rumah dan membuat kesan rumah yang terjangkau.

Sejalan dengan itu, dengan banyaknya perumahan baru yang muncul, nyatanya hanya sedikit perumahan yang sepi peminat. Kebanyakan perumahan baru memiliki banyak peminat yang bahkan sudah memesan lahan dan mengatur desain rumah sebelum rumah tersebut benar-benar dibangun.

Jika melihat kondisi ini, maka bisa disimpulkan bahwa kondisi perekonomian masyarakat Indonesia sudah membaik dan tentunya menjadi angin segar bagi pengembang. Kita bisa melihatnya sebagai sebuah simbiosis di mana pengembang bisa memberikan harga rumah yang murah dan bank juga memberikan kebijakan untuk membantu memungkinkan masyarakat memiliki rumah dengan cicilan yang cenderung ringan.

Itulah ulasan mengenai situasi dan pertumbuhan ekonomi yang berkaitan dengan pertumbuhan di sektor properti. Semoga dengan ulasan ini, Anda bisa memiliki gambaran tentang bagaimana kondisi ekonomi negara kita dan apakah situasi di sektor properti kita baik-baik saja dan masih bisa dijangkau oleh masyarakat, utamanya kelas menengah ke atas.

Visited 104 times, 1 visit(s) today